Jumat, 23 September 2011

NGANJUK KOTA ADIPURA

Makin ketatnya penilaian Adipura, tidak menghambat Kabupaten Nganjuk kembali mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan tersebut. Pada Bulan Juni 2011 lalu, Bupati Nganjuk Drs Taufiqurrahman menerima penghargaan bergengsi tersebut langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pekan Lingkungan Hidup Indonesia di Senayan, Jakarta.


Tidak hanya Adipura, pada kesempatan yang sama Bupati Nganjuk juga menerima penghargaan Adiwiyata. Penghargaan ini diberikan untuk SMPN 1 Prambon yang dinilai peduli lngkungan dan berhasil menyisihkan ratusan sekolah lainnya di Indonesia.

Nganjuk menjadi satu dari 14 kabupaten/kota di Jawa Timur yang mendapatkan Adipura. Untuk kategori kecil, Kabupaten Nganjuk berada di antara delapan kabupaten dan kota se-Jatim.


Sebagaimana tahun 2010 lalu, piala Adipura yang sudah tiga kali berturut-turut diraih Kabupaten Nganjuk diarak keliling wilayah kota dan sekitarnya. Terutama di wilayah yang menjadi sasaran penilaian Adipura.



Kamis, 22 September 2011

NASI BECEK NGANJUK

Nasi becek Nganjuk, baru kemarin saya mendengar nama makanan tersebut. Kebetulan kemarin ada acara akad nikah teman kantor di Nganjuk, dan sehabis acara, teman dari Madiun ngajak makan nasi becek. Warungnya cukup sederhana, letaknya di jalan Dr. Sutomo. Yang jual namanya Bu Tin, orangnya ramah. Kata Bu Tin, nasi becek sudah dijual secara turun temurun sejak tahun 1950. Bu Tin adalah keturunan ketiga.Nasi becek, kalau orang Nganjuk menyebutnya sego becek, adalah hidangan yang mirip dengan kari/kare kambing. Isi dari sego becek nyaris serupa dengan soto babat, juga mirip dengan nasi gule, tetapi lebih encer.

Secara keseluruhan, rasanya mungkin cenderung mirip dengan mayoritas makanan sejenis yang berkembang di daerah Solo, Jawa Tengah. Cenderung manis dan tidak asin, berbeda dengan umumnya hidangan utama ala Jawa Timuran yang cenderung asin. Karena saya berasal dari Jawa Tengah, saya cocok dengan makanan ini, rasanya luar biasa nikmat. Apalagi ditambah dengan beberapa tusuk sate kambing muda alias cempe, wah nikmatnya. Sate kambingnya sangat empuk sekali, baru pertama saya makan sate empuk seperti itu.

Nggak rugi deh, makan nasi becek di Nganjuk, lebih serunya lagi, kami di beri gratis 50 tusuk sate kambing muda, wah baik benar Bu Tin ini. Untuk membalas kebaikan beliau, maka saya ulas di blog ini xixixixi, semoga nasi becek-nya tambah laris dan terkenal di seluruh Indonesia. Amin.

Sumber: Setyo Budianto
http://travelling.setyobudianto.com/2010/05/nasi-becek-makanan-khas-nganjuk.html

Rabu, 21 September 2011

ALUN-ALUN NGANJUK

http://www.youtube.com/watch?v=tpY0nle3qQk
Masih ingat kan dengan Novita Anggraeni?? Itu lho pemenang KDI 5 yang terkenal dengan salah satu lagunya "Alun-Alun Nganjuk".
Selain suara maupun lagunya memang enak didenger, liriknya juga mengangkat setting latar Alun-Alun Nganjuk, membuat pikiran pendengar akan langsung tertuju pada objek tersebut.

Tidak ada yang teramat istimewa dari Alun-Alun Nganjuk, tetapi tempat ini dapat menjadi alternatif bagi warga Nganjuk atau siapapun yang berkunjung ke Kota Nganjuk untuk menikmati suasana taman kota. Anda dapat menghabiskan waktu sore hari sambil berjalan-jalan di seputar Alun-Alun Nganjuk dan menikmati aneka jajanan yang banyak dijual di tepi trotoar. Biasanya anak-anak remaja memanfaatkan sarana ini untuk berolahraga di lapangan basket atau sekedar kongkow-kongkow hingga beranjak malam. Di satu bagian alun-alun terdapat trotoar bertekstur batu-batu kali yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pijat refleksi kaki. Masyarakat, khususnya para manula juga sering memanfaatkan alun-alun ini sebagai tempat berolahraga senam atai jogging, baik di pagi maupun sore hari.

Bila ada acara-acara khusus, biasanya Pemkot Nganjuk memanfaatkan alun-alun sebagai tempat hiburan rakyat. Misalnya acara HUT Kota Nganjuk biasanya menampilkan acara "Wayangan" atau "Orkes Melayu". Ada pula bazar yang rutin digelar di dalam alun-alun setiap ada acara khusus.

Dari alun-alun, kita juga bisa langsung berbelanja di areal pertokoan jalan Ahmad Yani yang terletak persis di depan alun-alun. Ada banyak produk yang bisa kita dapatkan di sepanjang jalan itu, mulai pakaian, perlengkapan sekolah, obat-obatan, hingga jajanan, khususnya warung-warung nasi pecel yang berjejer di Jalan Ahmad Yani sebelah selatan di waktu malam hari.

CANDI LOR















Candi Lor terletak di desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, atau kira-kira 3-5 kilometer arah selatan dari pusat kota Nganjuk. Candi Lor ini didirikan oleh Mpu Sindok pada tahun 859 Caka atau 937 M sebagai Tugu Peringatan Kemenangan Sindok atas musuhnya dari Melayu. Secara riil, candi yang menghadap ke barat ini wujudnya sudah tidak berbentuk lagi (sudah sangat rusak). Hal ini disebabkan usia bangunan yang memang sudah sangat tua, bahkan bangunan yang terbuat dari batu merah dan tumbuhnya pohon Kepuh di badan candi yang akar-akarnya mencengkeram dan menghunjam kesegala arah di badan candi sebelah selatan.






















Di sebelah baratnya lagi terdapat dua buah makam yang oleh penduduk diyakini sebagai makam Yang Kerto dan Yang Kerti, abdi kinasih Mpu Sindok. Candi Lor diduga bercorak Siwa. Walaupun Candi Lor keadaannya telah rusak, namun ditempat inilah terdapat salah satu bukti sejarah tentang keberhasilan Mpu Sindok mengalahkan musuhnya armada Melayu, dan sekaligus merupakan Tugu Peringatan

Senin, 19 September 2011

MISTERI MAKAM TUA MBAH NGLIMAN

Oleh: Lintang Wetan

Ada sebuah makam tua di daerah Ngliman-Nganjuk yang konon disebut makam "Mbah Ngliman". Makam ini bercorak Sywa-Budha sehingga diperkirakan orang yang dimakamkan berasal dari jaman Majapahit. Adanya sebuah pohon bodhi yang ditanam di lokasi makam mengisyaratkan bahwa orang yang dimakamkan bukanlah orang sembarangan, pastilah dia orang yang besar di jamannya.

Dalam wewaler (pesan spiritual) yang dijaga kerahasiaannya selama 650 tahun terungkap bahwa makam tsb tidak lain adalah makam dari Patih Agung Majapahit yakni Gajah Mada. Selama ini masyarakat awam percaya bahwa Gajah Mada moksa (murca) di air terjun Madakaripura-Probolinggo dalam semedinya. Namun cerita ini lebih bernuansa mitos / legenda dan tidak ada bukti arkeologisnya.

Sedangkan proses pembuktian sejarah yang sedikit demi sedikit mulai dilakukan oleh segelintir budayawan kian mendukung kebenaran makam Mbah Ngliman ini. Walau harus diakui masih banyak misteri yang belum terungkap karena pro kontra tentang apakah sudah tiba atau belum habis masa wewaler. Konon bila wewaler diungkap sebelum waktunya akan mendatangkan celaka. Salah seorang budayawan senior Kota Nganjuk, Drs. Harmadi, dalam bukunya "Wewaler Ki Ageng Ngliman" dan "Misteri Mukso Mahapatih Gajah Mada", mengungkapkan bahwa sosok Ki Ageng Ngliman sebenarnya adalah sosok pahlawan legendaris dari Kerajaan Mojopahit yaitu Maha Patih Gajah Mada. Dalam kedua buku tersebut dipaparkan kajian historis dan arkeologis yang mendukung pernyataan tersebut.

Berdasarkan ilmu "gothak gathuk mathuk", kata Ngliman berasal dari kata Liman = Gajah. Sedangkan Patih Gajah Mada dikenal sebagai duda yang tidak kawin, sehingga nama Air Terjun di Ngliman dinamakan Seduda. Terlebih lagi dalam filsafat Surya Majapahit, daerah tsb dipercaya sebagai salah satu cakra penting tanah Jawa. Cakra di sini berarti pusat energi yang menjadi penyeimbang gerak alam. Hal ini saling bertalian dengan makam perabuan Prabu Hayam Wuruk yang ada di Candi Ngetos yang berdekatan dengan Nglman. Susunan cakra ini berhubungan erat dengan letak Gunung Wilis dan Keraton ganda Majapahit di Daha yang dari masa ke masa selalu menjadi penyeimbang Keraton Kahuripan di Trowulan.

Bila misteri mistik tempat ini diungkap luas, entah apa yang akan terjadi dengan Pulau Jawa. Hari-hari ini ada semacam persamaan banyak jangka (ramalan) Jawa Kuno yang jatuh masa klimaknya. Tepatnya akhir masa kaliyuga (kegelapan). Jadi apakah fenomena wewaler Mbah Ngliman ini ada hubungannya dengan janji Sabdo Palon, Jangka Jayabaya, dan Ronggowarsito? Belum diketahui pasti. Tentu penelusuran ini tidak cukup hanya mengandalkan metode formal, namun juga diperlukan suatu perjalanan spiritual yang dalam.

Pada awal tahun 2011, saya sempat berkunjung ke makam Mbah Ngliman untuk memberikan penghormatan pada tokoh besar ini. Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan dari kamera hp amatiran:
Pintu masuk makam "Mbah Ngliman". Tampak rangkaian anak tangga yang merupakan jalan masuk menuju makam Ki Ageng Ngliman. Sosok yang diduga tak lain dan tak bukan adalah Mahapatih Gajah Mada yang tersohor dari Kerajaan Majapahit.













Konon setiap orang yang melewati tangga tersebut tidak pernah dapat menghitung ulang dengan sama benar jumlah anak tangga yang ada (saya belum mencobanya karena naik tangga sebanyak ini cukup bikin nafas ngos-ngosan).









Akhirnya nyampek juga di depan gapura makam Ki Ageng Ngliman setelah meniti puluhan anak tangga. Sebenarnya ada dua makam Ki Ageng Ngliman, satunya Gedong Kulon, satunya Gedong Wetan (yang ada di foto ini).
Janggalnya, tidak ada catatan sejarah yang jelas mengenai Ki Ageng Ngliman Gedong Wetan ini. Saat saya tanya abdi dalem makam, siapa sebenarnya Ki Ageng Ngliman ini, beliau hanya tersenyum saja.

Tapi dilihat dari gaya gapura tampak jelas bahwa ada relief patung budha dan arca dwaralapa, menunjukkan bahwa tokoh yang dimakamkan di sini adalah tokoh besar dari jaman Kerajaan Majapahit (sebelum masa Kerajaan Demak Bintoro).

Wah saya tidak boleh mengambil foto makam Ki Ageng Ngliman (katanya kalau melanggar kena petaka), wah ngeri... manut aja deh! Setelah masuk ke dalam ada sebuah nisan dengan sebuah peti terbungkus kain kafan putih kumal, aroma bunga dan sesaji sungguh pekat, terlebih atmosfer mistik yg kuat. Beberapa orang tampak duduk bersila berdoa dengan kusuk, sambil membaca ayat-ayat Qur'an, walau saya tau mereka sebenarnya datang untuk "ngalap berkah" (pesugihan).

Saya hanya duduk diam mematung sambil mengamati makam di hadapan saya. Dalam hati terhenyak dalam heran: andaikan benar..... seorang tokoh besar dari jaman Kerajaan Majapahit Mahapatih Gajah Mada, mengasingkan diri dalam pertapaan di tempat sederhana dan dmakamkan tanpa nama dan asal-usul. inikah artinya MOKSA sesungguhnya??

AIR TERJUN SEDUDO

Objek wisata yang mepunyai panaroma yang menyejukan disekitar alamnya yaitu objek wisata air terjun. Salah satunya adalah Air Terjun Sedudo. Air terjun sedudo berlokasi di Desa Ngaliman Kecamatan Sawahan Nganjuk Jawa Timur. Selain asik untuk dijadikan ajang rekreasi dikawasan air terjun sedudo juga memiliki fasilitas yang cukup terpenuhi untuk para pangunjung yang berdatangan. Tempat wisata yang berada pada ketinggian 1.438 meter dari permukaan laut ini memiliki ait terjun dengan ketinggian air sekitar 105 meter.



Selain itu daya tarik lainnya konon, air terjun yang mengalir digunakan untuk upacara ritual untuk memandikan arca saat upacara Parna Prahista. Percikan airnya pun dapat membuat awet muda dan mendapat berkah jika terkena percikan air yang digunakan dalam upacara ritual yang diadakan setiap tanggal 1 suro. Di kawasan air terjun sedudo, pemandangan alamnya sungguh luar biasa, aliran air terjun yang begitu deras semakin membuat suasana yang menyejukan.


Selain itu anda juga akan menjumpai berbagai tumbuhan unik yang tumbuh beriringan dan berjejeran disekitar jalan yang terawat bersih dan indah. Percaya atau tidak, jika anda menghitung anak tangga yang terbuat dari bebatuan saat anda naik, jumlahnya akan berbeda saat anda kembali menuruni anak tangga tersebut. Jangan lupa juga untuk mencicipi berbagai masakan khas Nganjuk yang disediakan diwarung makan yang berada dikawasan wisata air terjun sedudo, dan jangan lupa juga untuk membeli souvenir sebagai oleh-oleh.


SEJARAH KOTA NGANJUK

A. Nganjuk pada permulaan tahun 1811
Sejarah pemerintahan kabupaten pace sangat sulit diungkapkan karena kurangnya data yang dapat menjelaskan keberadaannya. Demikian pula halnya dengan mata rantai hubungan antara kabupaten pace dengan kabupaten berbek. Sehubungan dengan hal tersebut maka pembahasan tentang sejarah pemerintahan kabupaten nganjuk dimulai dari keberadaan kabupaten berbek.
Berdasarkan peta jawa tengah dan jawa timur pada permulaan tahun 1811 yang terdapat dalam buku tulisan Peter Carey yang berjudul :”Orang jawa dan masyarakat Cina (1755-1825)”,penerbit pustaka Azet, Jakarta,1986;diperoleh gambaran yang agak jelas tentang daerah nganjuk.apabila dicermati peta tersebut ternyata daerah nganjuk terbagi dalam 4 (empat)daerah ,yaitu Berbek ,Godean dan Kertosono.dengan catatan, bahwa Berbek,Godean,Nganjuk dan Kertosono merupakan daerah yang dikuasai belanda dan kasultanan Yogyakarta, sedangkan daerah nganjuk merupakan mancanegara kasunanan Surakarta.
Timbul pertanyaan, apakah keempat daerah tersebut mempunyai status sebagai daaerah kabupaten yang dipimpin oleh seorang bupati (Raden Tumenggung) atau berstatus lain? Dari silsilah keturunan raja negeri bima, silsilah Ngarso Dalem Sampean Dalem ingkang Sinuwun Kanjeng Sulatan Hamengkubuwono1 atau asal usul Raden Tumenggung Sosrodi-Ningrat Bupati Nayoko Wedono Lebet Gedong Tengen Rajekwesi dapat diperoleh kesimpulan bahwa memang benar daerah-daerah tersebut pada waktu itu merupakan daerah kabupaten. Adaoun penguasa daerah Berbek dan Godean dapat dijelaskan sebagai berikut:
1, Raja bima mempunyai seoarang putra, yaitu: Haji Datuk Sulaeman, yang kawin dengan putri Kyai Wiroyudo dan berputra 4(empat) orang yaitu;
1. Nyai Sontoyudo
2.Nyai Honggoyudo
3.Kyai Derpoyudo
4.Nyai Damis Rembang
2. Nyai Honggoyudo berputra:
1. Raden Ayu Rongso Sepuh
2. Raden Ayu Tumenggung Sosronegoro
3. Raden Ngabei Kertoprojo
4. Mas Ajeng Kertowijoyo
3. Raden Tumenggung Sosronegoro I,Bupati Grobongan, mempunyai putra sebanyak 30(tiga puluh) orang, antara lain:
1. Raden Tumenggung Sosrodiningrat I (putra I)
2. Reden Tumenggung Sosrokoesoemo I (putra VII)
3. Raden Tumenggung Sosrodirjo (putra ke XXIII)
4. Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I adalah Bupati Berbek (sebelaum pecah dengan Godean) Berputra sebanyak 19(sembilan belas) orang ,antara lain :
1. RMT Sosronegoro II(putra ke-2)
2. RT. Sosrokoesoemo II (putra ke-11).
Menurut pengamatan penulis, ketika RT Sosrokoesoemo I meninggal dunia, telah digantikan adiknya, yakni RT Sosrodirdjo sebagai Bupati Berbek. Setelah itu Berbek di pecah menjadi dua daerah, yaitu berbek dan godean. RT. Sosrodirdjo tetap memimpin daerah Berbek, sedangkan Godean dipimpin oleh keponakannya yaitu RMT.Sosronegoro II (putra kedua dari RT Sosrokoesoemo I). selanjutnya, menurut perkiraan, setelah kedua bupati tersebut surut/pension, kabupaten Berbek yang dipimpin oleh RT.Sosrokoesoemo II (Putra ke-11 dari RT.Sosrokoesoemo I).
Tentang kabupaten Nganjuk dan Kertosono belum dapat diungkapkan lebih kauh, karena dalam perkembangan selanjutnya kedua daerah tersebut bergabung manjadi satu dengan daerah Berbek, yang diperkirakan terjadi sebelum tahun 1852. Adapun bupati Nganjuk sekitar tahun 1830 adalah RT.Brotodikoro, sedangkan bupati Kertosono adalah RT.Soemodipoero.

B. Nganjuk Sekitar Tahun 1830
Perjanjian Sepreh
Pada tanggal 3 juli 1830 atau tanggal 12 bulan suro tahun 1758, telah diadakan suatu pertemuan di Pendopo Sepreh oleh Raad Van Indie Mr.Pieter Markus, Ridder Van de Orde Van de Nederlandsche leeuw, Commisaris ter Regelling de Vorstenlanden untuk mengatur daerah-daerah mancanegara kesunanan Surakarta atau kesultanan Yogyakarta, sebagai tindak lanjut dari persetujuan antara Neterlandsch Gouverment dengan yang mulia saat itu akan ditempatkan dibawah pengawasan dan kekuasan Nederlandsch Gouverment.
Keesokan harinya, pertemuan tersebut telah menghasilkan “Perjanjian Sepreh Tahun 1830” yang ditandatangani dengan teraan-teraan cap dan bermaterai oleh 23 Bupati dari residensi kediri dan residensi Madiun, dengan disaksikan oleh Raad Van Indie, Komisaris yang mengurus daerah-daerah kraton serta tuan-tuan Van Lawick Van Pabst dan J.B. de Solis, residen Rembang. Berdasarkan persetujuan tersebut mulai saat itu Nederlandsch Gouverment melaksanakan pengawasan tertinggi dan menguasai daerah-daerah mancanegara.
Apabila dicermati, ternyata salah satu dari 23 Bupati yang telah ikut menandatangani perjanjian tersebut adalah raden Tumenggung Brotodikoro, regency van Ngandjoek. Mengapa demikian hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bahwa yang mengikuti pertemuan di Pendopo Sepreh hanyalah bupati-bupati mancanegara dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sedangkan bupati Berbek dan bupati Kertosono, sebagaimana diuraikan dimuka, adalah merupakan bupati dari daerah-daerah yang telah dikuasai dan mulai tunduk dibawah pemerintah belanda jauh sebelumnya.
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sejak adanya Perjanjian Sepreh 1830, atau tepatnya tanggal 4 juli1830, maka semua kabupaten di nganjuk (Berbek, Kertosono dan Nganjuk ) tunduk dibawah kekuasaan dan pengawasan Nederlandsch Gouverment.
Nganjuk Setelah Perjajian Sepreh
Pada tanggal 31 Agustus 1830, atau hampir dau bulan setelah Perjanjian Sepreh, pemerintahan Hindia Belanda mengadakan penataan-penataan / pengaturan-pengaturan atas kabupaten-kabupaten yang telah berada dibawah pengwaasan dan kekuasaanya. Tentang penataan ini dapat dilihat dalam surat pemerintahan Hindia Belanda Y1.La.A.No.1, Semarang, 31 Agustus 1830, yang berisikan tentang hasil konperensi dari Gubernur Jendral dengan komisaris-komisaris yang mengurus / mengatur daerah-daerah keratin.
Dari hasil konperensi tersebut, kemudian keluar satu keputusan tetang rencana dari Pemerintah Hindia Belanda, yang antara lain menerangkan bahwa:
Pertama :Menentukan bahwa daerah mancanegara bagian timur akan terdiri dari dua residensi, yaitu Residensi Kediri dan Residensi Madiun
Kedua :Bahwa Residensi Madiun akan terdiri dari kabupaten-kabupaten: Kedirie, Kertosono, Ngandjoek, Berbek, Ngrowo dan kalangbret. Dan selanjutnya dari Distrik-distrik Blitar, Trenggalek, kampak dan yang lebih timur sampai dengan batas-batas dari Malang; baik batas dari kabupaten-kabupaten maupun distrik juga akan diatur kemudian. 1)
Ketiga :Bahwa Residensi Kediri akan terdiri dari kabupaten-kabupaten :Kedirie, Kertosono, Ngandjoek, Berbek, Ngrowo dan Kalangbret. Dan selanjutnya dari Distrik-dastrik Blitar, trenggalek, Kampak dan yang lebih ke Timuar sampai dengan batas-batas dari Malang: baik batas dari Kabupaten-kabupaten maupun Distrik-distrik juga akan diatur kemudian. 1)
baca skep. Y1. LA. No. Semarang 31 Agustus 1830
Sebagai realisasinya, pada kurun waktu empat bulan kemudian ditetapkanlah Resolusi No 10 Tanggal 31 Desember 1830, yang berisikan tentang pelaksanaan dari Skep. Tanggal 31 Agustus 1830 tersebut di atas
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam isi Resolusi tersebut, khususnya pada bagian keempat, yang antara lain berbunyi sebagai berikut : 2)
baca Resolusi tanggal 31 Desember 1830 No 10.
Keempat : juga sangat disayangkan, dari Skep, tanggal 31 Agustus Y1. La. No 1 terpaksa disetujui (diperkuat) dua Residensi dalam kabupaten-kabupaten:
ResidensiMadiun dalam kabupaten- kabupaten:
Madiun
Poerwo-dadie
Toenggoel
Magetan
Gorang-gareng
Djogorogo
Tjaruban ……
b. Residensi Kedirie dalam kabupaten- kabupaten:
Kedirie
Nganjoek
Berbek
Kertosono, …..
Dari hasil pengamatan kedua dokumen tersebut, dapat diketahui bahwa setelah penyerahan pengawasan dan kekuasaan atas daerah-daerah mancanegara oleh Suhunan dari surakarta dan Sultan dari Yogyakarta kepada pemarintah Hindia Belanda, maka pemerintah Hindia Belanda telah menerapkan tiga wilayah pemerintahan yaitu:Kabupaten Ngandjoek, kabupaten Berbek dan kabupaten Kertosono.
Tentang para penjabat Bupati dari ketiga kabupaten tersebut , ditetapkan dengan akte Komisaris Daerah-daerah yang telah diambil alih, yang ditandatangani di Semarang 16 juni 1831, oleh van Lawick van Pabst, dengan tiga personalia Bupati sebagai berikut :3)
Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo sebagai Bupati Berbek
Raden Toemenggoeng Brotodikoro sebagai Bupati Nganjuk dan
Raden Toemenggoeng Soemodipoero sebagai Bupati Kertosono
Penetapan pejabat-pejabat Bupati tersebut bersamaan dengan penetapan pejabat Bupati yang lain dalam Residensi kedirie: Bupati Kedirie Raden Mas Toemenggoeng Ario Djojoningrat; Bupati Ngrowo –Radeen DIpati Djajengningrat ; Bupati Kalangbret –Radeen Toemenggoeng Mangoondikoro; dan Bupati Srengat Radeen Ngabey Mertokoesoemo.

C. Berbek, Cikal Bakal Kabupaten Nganjuk
Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo I :
Dalam uraian berikut ini lebih banyak menjelaskan tentang
3). Baca Akte Komisaris Daerah-daerah Keraton yang telah diambil alih oleh Residensi Kediri, yang ditandatangani di Semarang oleh Van Lawick Van Pabst. Dalam akte kolektif ini juga ditetapkan personalia pejabat-pejabat Kabupaten yang lain, seperti Patih, Mantrie, Jaksa, Mantri Wedono / Kepala Distrik, mantri Res dan Penghoeloe.
Perjalanan sejarah keberadaan Kabupaten Berbek “cikal bakal” Kabupaten Nganjuk sekarang ini. Dikatakan “cikal bakal” karena ternyata kemudian bahwa alur sejarah kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan Kabupaten Berbek dibawah kepemimpinnan Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo 1.
Kapan tepatnya daerah Berbek mulai menjadi suatu daerah yang berstatus kabupaten, kiranya masih sulit diungkapkan. Namun dari silsilah keluarga dan catatan:”Peninggalan Kepurbakalaan Kabupaten Nganjuk” tulisan Drs. Subandi, dapat diketahui bahwa bupati Berbek yang pertama adalah KRT. Sosrokoesoemo 1 (terkenal dangan sebutan Kanjeng Jimat).
Pada masa pemerintahanya dapat diselesaikan sebuah bangunan masjid yang bercorak hinduistis yang bernama masjid yoni Al Mubaarok. Terdapat sinengkalan huruf arab berbahasa jawa yang berbunyi:
Bagian depan :Ratu Pandito Tata Terus (1759)
Bagian Bawah :Ratu Nitih Buto Murti(1758)
Kanan/kiri: Ratu Pandito Tata Terus (1759)
Belakang: Ratu Pandito Tata Terus (1759)
Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrodirdjo
Setelah KRT Sosrokoesoemo meninggal dunia tahun 1760 (Leno Sarosa Pandito Iku), sebagai penggantinya adalah Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrodirdjo. Mendekati tahun 1811, Kabupaen Berbek pecah menjadi 2(dua), yaitu Kabupaten Berbek dan Kabupaten Godean. Sebagai bupati Godean adalah Raden Mas Toemenggoeng Sosronegoro II.
Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo II:
Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai tindak lanjut adalah perjanjian sepreh tahun 1830, yaitu adanya rencana penataan kembali daerah-daerah dibawah pengawasan dan kekuasaan Nederlandsch Gouverment,dengan SK 31 agustus 1830, ditetapkan bahwa Kabupaten Godean dinyatakan dicabut dan selanjutnya digabung dangan Kabupaten Berbek (yang terdekat). Dengan akte Komisaris daerah-daerah Keraton yang telah diambil alih dan ditandatangani oleh Van Lawick Van Pabst tanggal 16 juni 1831 di Semarang, ditunjuk sebagai bupati Berbek adalah Kanjeng Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo II. Dari akte tersebut dapat diketahui bahwa Godean telah berubah statusnya menjadi Distri Godean, yang bersama-sama dengan distrik Siwalan dan distrik Berbek menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Berbek.
Raden Ngabehi Pringgodikdo :
KRT Sosrokoesoemo II(1830-1852)meninggal dunia tanggal 27 agustus 1852 karena menderita sakit paru-paru.yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah Raden Ngabehi Pringgodikdo, patih dari luar Kabupaten Ngrowo, yang bukan termasuk garis keturunan / keluarga dari KRT.Sosrokoesoemo II. Pilihan jatuh pada Pringodikdo ini karena putra-putra dari KRT.Sosrokoesoemo II (Bupati yang telah meninggal) dianggap kurang mampu unuk menduduki jabatan bupati tersebut
Sedangkan Pringgodikdo dinilai lebih cakap dan berbudi pekerti yang baik, selain itu mempunyai pengalaman yang cukup daripada calon-calon lain yang diusulkan, sehingga dianggap mampu dan pantas untuk menggantikan KRT. Sosrokoesoemo II almarhum.
Pengangkatan Pringgodikdo sebagai bupati yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur Jendral Nederlandsch India di Batavia, tanggal 25 November 1852. selanjutnya, apabila disimak dari isi surat residen Kedirie yang pertama, tanggal 20 September 1852 tetang pertimbangan-pertimbangan terhadap Pringgodikdo untuk diangkat menjadi Bupati Berbek adalah sebagai berikut:
“Kabupaten Berbek penting sekali, juga sangat luas, yang meliuti delapan distrik diwilayahnya, dan berbatasan dangan residen Madiun, Soerabaja, rembang, sehingga Policie disana seharusnya waspada…”
Menurut “Akte Komisaris daerah-daerah Kraton yang telah diambil alih “tanggal 16 Juni1831, bahwa dikabupaten Berbek terdapat 3(tiga) distrik, Kabupaten Nganjuk ada 2(dua) distrik dan Kabupaten Kertosono ada 3(tiga) distrik, sehingga jumlah keseluruhan ada 8(delapan) distrik, sama dengan yang disebutkan dalam SK di atas. Hal ini berarti sebelum KRT.Sosrokoesoemo II meninggal, telah terjadi suatu proses penghapusan Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kertosono yang meliputi distrik-distrik: Berbek, Goden, Siwalan (asli dari Kabupaten Berbek), Ngandjoek, Gemenggeng (berasal dari Kabupaten Ngandjoek), Kertosono, Waroe Djajeng, Lengkong (berasal dari Kabupaten Ketosono).
Raden Ngabehi Soemowilojo
Raden Ngabehi Pringgodikdo menjabat sebagai bupati Berbek lebih kurang 14 tahun, yaitu sampai dengan tahun 1866. setelah mangkat digantikan oleh Raden Ngabehi Soemowilojo, patih pada kadipaten Blitar dengan SK Gubernur Jendral Nederlandsch Indie tanggal 3 September 1866 No. 10. selanjutnya dengan SK Gubernur Jendral Nederlandsch Indie tanggal 21 oktober 1866 No.102 dia diberi gelar toemenggoeng dan diijimkan manamakan diri : Raden Ngabehi Soemowilojo.
6. Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo III:
Raden Ngabehi Soemowilojo meninggal dunia tanggal 22 februari 1878. Untuk menduduki jabatan Bupati Berbek yang kosong tersebut telah diangkat Raden Mas Sosrokoesoemo III, Wedono dari Nederlandsch Indie tanggal 10 april 1878 No.9, menjadi Bupati Berbek. Bersama dengan itu diberikan totle jabatan: Toemenggoeng dan diijinkan menuliskan namanya Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo. Pada masa pemerintahan Radeen Toemenggoeng Sosrokoesoemo III inilah terjadi suatu peristiwa yang amat penting bagi perjalanan sejarah pemerintahan di Nganjuk hingga sekarang ini. Peristiwa tersebut adalah adanya kepindahan tempat pusat pemerintahan dari kota Berbek menuju kota Nganjuk. Mengenai hal boyongan ini akan diuraikan nanti.
Raden Mas Toemenggoeng Sosro Hadikoesoemo :
Pada tanggal 28 September 1900, RM. Adipati Sosrokoesoemo III karena menderita sakit yang terus menerus sehingga terpaksa memberanikan diri mengajukan permohonan kepada Gubernur Jendral Nederlansch Indie untuk diberhentikan dengan hormat dari jabatan Negara dengan diberikan hak pensiun. Dan selanjutnya, memohon agar karirnya putra laki-laki tertuanya: Raden Mas Sosro Hadikoesoemo menggantikan jabatan sebagai Regent (Bupati) Berbek.
Berdasarkan Besluit Gubernur Jendral nederlansch Indie tanggal 2 Maret 1901 No 10, Pemerintahan Hindia Belanda memberhentiakan R.M. Adipati Sosrokoesoemo dan selanjutnya mengangkat redden Mas Sosro Hadikoesoemo sebagai Regent (Bupati) Berbek dan memberinya gelar Toemenggoeng dan mengijinkan menamakan dan menuliskan:Raden MAs Toemenggoeng Sosro Hadi Koesoemo.
Satu hal penting yang perlu dipehatikan pada masa jabatan RMT. Sosro Hadi Koesoemo ini adalah mulai digunakan sebutan: Regentschap (Kabupaten) Nganjuk, yang pada waktu-waktu sebelumnya masih di sebut Afdelling Berbek (Kabupaten Berbek). Tentang hal ini dapat dilihat pada Regeering Almanak 1852-19420.
Berikut ini adalah nama-nama Bupati Nganjuk setelah Raden Mas Sosro Hadi Koesoemo:
1936 - 1952 : R.T.A. Prswiro Widjojo
1943 - 1947 : R. Mochtar Praboe Maangkoenegoro
1947 - 1949 :Mr.R.Iskandar Gondowardjojo
1949 - 1951 : R.M.Djojokoesoemo
1951 -1955 : K.I Soeroso Atmohadiredjo
1955 -1958 : M. Abdoel Sjukur Djojodiprodjo
1958 -1960 : M. Poegoeh Tjokrosoemarto
1960 -1968 : Soendoro Hardjoamodjojo, SH
1968 - 1943 : Soeprapto,BA
1973 - 1978 : Soeprapto,BA
1978 - 1983 : Drs.SOemari
1983 - 1988 : Drs.ibnu Salam
1988 - 1993 : Drs.ibnu Salam
1933 - 1998 : Drs.Soetrisno R
1998 - 2003 : Drs.Soetrisno R, M.Si

D. Boyongan Pusat Pemerintahan
Alasan dan Waktu Boyongan
Mengapa harus pindah ? pada Encyclopedia Van nederlandsch Indies Grovenhoge; Mertimes nijhoff, 1919, halaman 274-274, terdapat keterangan yang menjelaskan bahwa ibu kota Berbek adalah wilayah yang terisolasi. Karena itu tentunya sulit untuk berkembang. Kebetulan pada waktu itu sedang dilakdanakan pembangunan jalur kereta api jurusan Surabaya – Solo, sehingga ibu kota Kabupaten Berbek perlu pindah ke Ngandjoek yang dekat dengan jalur kereta api, strategis dan lebih berhubungan dan berkomunikasi dengan dunia luar.
Dalam Encyclopedia tersebut hanya disebut waktu keindahan angka tahun 1883, namun angka ini agak disangsikan. Dalam foto dokumentasi “Peringatan 50 Tahun Berdirinya Kota Ngandjoek Yang diadakan di Onderdistrixk Prambon”, ditemukan angka 1880 – 1930. Hal ini berarti :
Peringatan HUT Kabupaten Ngandjoek yang ke-50 diadakan pada tahun 1930.
peringatan dilaksanakan pada saat RMAA.Sosrohadikoesoemo (Gusti Djito) masih menjabat sebagai Regenty (Bupati) Ngandjoek
Tahun 1880 adalah tahun suatu kejadian yang diperingati yaitu mulainya kedudukan ibu kota Kabupaten Berbek pindah ke Ngandjoek
Pada tahun1880 yang menjabat sebagai Bupati (Regent) Berbek adalah KRMT.Sosrokoesoemo III.
KRMT.Sosrokoesoemo III adalah bupati di Berbek yang terakhir dan sebagai bupati yang pertama di kota Nganjuk
Dari dua Sumber dokumentasi tersebut, penulis memberanikan diri mengajukan hipotesa sebagai berikut :
tahun 1880 merupakan tahun boyongan dati Berbek masuk Rumah Dinas Bupati di Ngandjoek
Oleh karena kepindahan tersebut tidak hanya boyongan tempet tinggal bagi pejabat bupati saja, tetapi diikuti dengan kepindahan seluruhperangkat pemerintahan pada waktu itu, tentunya melalui proses yang cukup lama, dan rupanya baru berakhir pada tahun 1883.
Berdasarkan asumsi sementara tersebut, ternyata masih ada teka-teki yang belum dapat terkuak sampai saat ini, yaitu kapan waktu yang sebenarnya bagi proses boyongan tersebut. Untuk asumsi yang pertama (item a) ada sedikit petunjuk sebagi berikut:
Ibu R.Ayu Moestadjab (ahlli waris KRMAA Sosrohadikoesoemo, jatuh cucu), dalam suratnya kepada Adi Soesanto, Kasubak Humas Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Nganjuk, pada tanggal 2 Maret 1987, menjelaskan bahwa HUT Kabupaten Nganjuk pada tahun 1930 jatuh pada hari Kemis Legi bulan Agustus.
Hari Kemis Legi bulan Agustus1930, setelah dicari melalui patokan dalam “Melacak Hari Lahir Plus Hari Pasaran”, ternyata jatuh pada tanggal 21 Agustus 1930.
Apabila penjelasan dari Ibu R.Ayu Mustadjab tersebut benar, maka boyongan dari Berbek masukRumah Dinas Bupati Nganjoek terjadi pada tanggal 21 Agustus 1880 atau jatuh pada Sabtu Kliwon.
Pertanyaan berikutnya adalah mengenai rute mana yang dipergunakan dalam melakukan proses boyongan tersebut. Satu hal yang perlu diingat, bahwa pola piker jaman leluhur dulu senantiasa memperhatikan hitungan atau patokan dalam ajaran Kejawen.
2. Nganjuk Sebagai Ibukota
Dikemukakan bahwa pada tahun 1880 Bupati Berbek telah bertempat tinggal di Nganjuk, sedangkan perangkat pemerintahan lainya diperkirakan pada tahun 1883 sudah selesai menyusul pindah ke kota Nganjuk. Berdasarkan kenyataan ini, apakah mungkin terdapat suatu ketetapan resmi yang menyatakan Kota Nganjuk sebagai Ibukota Kabupaten? Dalam Statsblad van Nederlansch Indie No.107, dikeluarkan tanggal 4 Juni 1885, memuat SK Gubernur Jendral dari Nederlandsch Indie tanggal 30 Mei 1885 No 4/C tentang batas-batas Ibukota Toeloeng Ahoeng, Trenggalek, Ngandjoek dan Kertosono, antara lain disebutkan:
“III tot hoafdplaats Ngandjoek, afdeling Berbek, de navalgende Wijken en kampongs :
de Chineeshe Wijk
de kampong Mangoendikaran
de kampong Pajaman
de kampong Kaoeman
Dengan ditetapkanya Kota Nganjuk yang meliputi kampung dan desa tersebut di atas menjadi ibukota Kabupaten Nganjuk, maka secara resmi pusat pemerintahan Kabupaten Berbek berkedudukan di Nganjuk.

Sumber: http://www.nganjukkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=86&Itemid=53